Masih rendahnya minat di bisnis asuransi

JAKARTA, (PRLM).- Sampai beberapa tahun ke depan, prospek bisnis asuransi di Indonesia masih sangat menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang sangat besar, saat ini mencapai sekitar 250 juta jiwa, sementara itu di sisi lain angka penetrasi industri asuransi di Indonesia masih minim, ini membuat perusahaan asuransi jiwa sekelas PT Aj CAR membuat terobosan dalam pemasaran dengan meluncurkan sistem 3i network.

“Namun, industri asuransi Indonesia harus juga bersiap menghadapi sejumlah tantangan termasuk perubahan orientasi pasar,” kata Anggota Pengawas Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Harry H. Diah, di Jakarta, Rabu (21/10/2015), terkait peringatan Hari Asuransi Nasional (Insurance Day) yang jatuh setiap 18 Oktober.

FB_IMG_1457880071284

Pendiri Avrist Insurance ini mengatakan, dalam beberapa tahun ini ada perubahan di pasar. Saat ini terjadi perubahan pasar yakni dari generasi yang dilahirkan sebelum tahun 1970-a menjadi generasi yang kini berusia 30-35 tahun, masih single atau keluarga kecil dan muda.

Menurut dia, yang jadi prospek adalah mereka yang lebih terpelajar, memiliki cukup uang, dapat menerima dan tertarik dengan asuransi serta memiliki kepedulian dengan asuransi. Tetapi mereka ini yang kebanyakan berasal dari kelompok white collar class dan center lower, memiliki kecenderungan untuk membeli yang simpel, dengan cara yang cepat, premi yang murah.

Mereka ini ingin tahu perhitungannya, advantage yang akan mereka dapatkan, dan sedikit menekankan hubungan individual atau lebih akrab.

“Dari berbagai sumber yang saya dapatkan, secara umum industri asuransi di Indonesia mencatat perkembangan bisnis yang bagus di tahun 2014. Terlebih, jika memperhatikan pertumbuhan ekonomi di tahun lalu yang hanya sebesar 5,02 persen,” kata Harry Diah.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pertumbuhan premi asuransi nasional juga tergolong tinggi. Bahkan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan premi di tahun sebelumnya. “Jadi, pertumbuhan yang ada akan sangat bergantung kepada para pelaku bisnis di industri asuransi unduk dapat menggapai pasar individu untuk membeli proteksi asuransi jiwa,” tandasnya.

Berdasar information Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), per Desember 2014 industri asuransi jiwa membukukan pendapatan premi sebesar Rp 167,76 triliun, naik 33,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2013 sebesar Rp 125,82 triliun.

Sementara itu untuk asuransi umum, berdasarkan information Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), secara nasional industri asuransi umum meraup premi sebesar Rp 55,1 triliun, tumbuh 17,98 persen dibanding tahun 2013 yang tercatat sebesar Rp 46,7 triliun.

Pertumbuhan premi yang tinggi ini diharapkan dapat terus dijaga, mengingat angka pentrasi asuransi di Indonesia masih rendah. Berdasar information Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai akhir 2014, angka penetrasi asuransi komersial hanya 1,74 persen. Angka tersebut merupakan perbandingan antara all out premi bruto asuransi terhadap perdapatan domestik bruto (PDB).

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, memang ada peningkatan penetrasi karena pada tahun 2013 penetrasi asuransi berada di angka 1,65 persen. OJK menargetkan penetrasi industri asuransi mampu tumbuh 20 persen dalam rentang 2-3 tahun ke depan.

Mengingat masih rendahnya penetrasi asuransi ini, Harry Diah mengingatkan agar sosialisasi asuransi harus selalu dilakukan. Sosialisasi ini sebaiknya dilakukan secara bersamaan oleh seluruh pelaku bisnis industri asuransi yang juga harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah melalui kebijakan dan peraturan yang di terbitkan.

“Apabila hal ini dapat terwujud, maka tingkat kesadaran masyarakat atas pentingnya asuransi akan sangat berkembang seperti halnya di negara-negara maju. Sosialisasi ini bisa dilakukan dalam bentuk kegiatan edukasi yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan dari berbagai usia, yang didukung dengan adanya produk yang sesuai juga dengan kebutuhan,” katanya.

Menurut tokoh yang selama puluhan tahun memimpin perusahaan asuransi ini, edukasi harus dilakukan secara berkala dengan komitmen yang tinggi dari semua pelaku industri ini. Di sisi yang lain, industri juga harus memiliki produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat dengan cukup mudah dimengerti oleh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *