Pengusaha Muda dan Problem Angkatan Kerja

Pengusaha muda atau pelaku usaha berusia muda sangatlah penting karena menjadi tumpuan harapan bagi tumbuhnya struktur sosial menengah yang kuat bagi sebuah bangsa. Pebisnis muda, dengan berbagai potensi, karakter, dan intelektualitasnya, harus dikondisikan dan ditumbuhkan. Apalagi tantangan yang dihadapi bangsa ini membutuhkan peran aktif secara nyata pelaku usaha, baik tantangan berupa pengangguran yang makin menumpuk dan tingkat kesejahteraan masyarakat kita yang relatif masih jauh dari yang diharapkan.

Problem Angkatan Kerja

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2010 mencapai 116 juta orang. Dari jumlah itu, sebanyak 8,59 juta orang 7,41 persen dari total angkatan kerja adalah pengangguran terbuka atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali untuk menopang kehidupannya.

Jumlah pengangguran terbuka ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Apalagi dilihat dari latar belakang pendidikannya. Jika dibandingkan keadaan Agustus 2009 tingkat pengangguran terbuka untuk semua tingkat pendidikan mengalami penurunan, kecuali tingkat pengangguran terbuka untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,05 persen dan 1,16 persen. Pada semester awal tahun 2010, tingkat pengangguran terbuka untuk pendidikan Diploma mendominasi, yaitu sebesar 15,71 persen.

Yang juga perlu dicermati adalah besarnya jumlah pengangguran terselubung atau setengah pengangguran yang hingga Februari 2010 tercatat mencapai 32,80 juta orang atau 31,54 persen dari angkatan kerja yang ada. Setengah pengangguran ini umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap atau bekerja kurang dari 35 jam perminggu. Kelompok setengah pengangguran ini, kalau dirata-rata penghasilan perbulannya tidak mencapai Rp 150 ribu.

Problem pengangguran ini masih akan terus membayangi mengingat pemulihan ekonomi kita berlangsung lamban. Proses pemulihan ekonomi pasca reformasi juga belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Hal ini dapat kita lihat dari pembukaan lapangan kerja baru yang sangat lambat. Bahkan pada setahun terakhir terjadi penurunan jumlah pekerja, diantaranya di Sektor Pertanian sebesar 200 ribu orang (0,47 persen) dan Sektor Transportasi sebesar 130 ribu orang (2,19 persen), dan Sektor Konstruksi sebesar 650 ribu orang (11,70 persen)

Fakta ini memperlihatkan bahwa banyak angkatan kerja yang ada tidak terserap dalam sektor ekonomi formal yang ada. Sementara untuk memasuki sektor non-formal, mereka juga tidak memiliki bekal ketrampilan yang cukup untuk menciptakan usaha ekonomi produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *