Strategi Memulai Usaha dengan Kemampuan Sendiri

Dalam sebuah diskusi kecil dengan sesama pelaku UKM, terlontar pertanyaan yang cukup menggelitik. Faktor atau unsur apa yang sangat dibutuhkan agar sebuah usaha bisa berhasil ? Ada yang mengatakan modal usaha adalah faktor yang paling utama. Tanpa modal, sebuah usaha tidak akan mampu memproduksi barang yang baik atau melakukan promosi untuk menemukan pasar.

Ada juga yang mengatakan bahwa pasar-lah yang paling menentukan. Tanpa pasar, modal sebanyak berapapun atau produk sebaik apapun tak akan ada artinya kalau tidak ada yang membeli. Begitu juga dengan yang berorientas pada produk, menganggap bahwa produklah yang dibutuhkan pasar.

Strategi Memulai Usaha dengan Kemampuan Sendiri

Dialog kecil diatas hanyalah sekedar gambaran bahwa sesungguhnya tidak ada faktor atau unsur yang sangat menentukan hingga meniadakan faktor atau unsur yang lain. Tanpa ketiga faktor tersebut, sebuah usaha tidak akan dapat berjalan. Apalagi akan meraih sukses. Begitu pun sebaliknya, adanya ketiga faktor tersebut ternyata juga tidak secara otomatis menjadikan sebuah usaha menjadi sukses kalau tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, sudut memandang persoalan pun semestinya diletakkan pada proporsinya agar memberikan manfaat secara optimal.

Bagi sebagian pelaku bisnis, bisa saja modal bukanlah faktor utama yang sangat menentukan keberhasilan sebuah usaha. Disinilah pentingnya kita memandang atau memposisikan modal pada tingkat kebutuhan yang sewajarnya. Artinya, ketika anda baru saja merencanakan sebuah usaha baru, anda perlu mempertimbangkan dengan baik kapan dukungan modal diperlukan, untuk apa, dan berapa besar.

Meskipun demikian, dari berbagai kajian dan hasil penelitian ditemukan sejumlah kendala dan tantangan yang kerap menjadi hambatan bagi pelaku usaha. Kendala itu meliputi faktor pemasaran, masalah produksi, pembukuan atau akuntansi, aspek permodalan, dan terakhir masalah sumber daya manusia. Hal ini memperlihatkan kebanyakan pelaku usaha cenderung lebih berorientasi pada produk (product oriented) ketimbang terhadap pasar (customer oriented).

Hal ini tentu saja berbeda sekali dengan usaha besar yang lebih mengutamakan aspek pelayanan dan kepuasan pelanggan ketimbang terhadap produk. Perbedaan ini tentu saja memberikan implikasi yang berbeda, terutama menyangkut ‘dari mana dan mau kemana’ para pelaku usaha menjalankan usahanya. Akibatnya, ketika produk sudah dihasilkan mereka pun mengalami kesulitan untuk memasarkannya. Selengkapnya lihat www.mitraukm.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *