Harga Cabai Mahal, Petani Desa Suntenjaya Gelar Ronda Cegah Pencurian

Harga cabai yang tengah meroket hingga setara dengan harga daging sapi membuat tanaman cabai yang bakal dipanen rawan terhadap pencurian. Oleh karena itu, para petani di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat menggelar ronda malam untuk menjaga cabai mereka.

Petani asal Kampung Gandok, Endi (38) menuturkan, sawah yang ditanami cabai dijaga bergiliran oleh para petani setiap malam, sejak harga cabai melambung tinggi setelah libur tahun baru 2017. “Kalau tidak ditunggui, kami khawatir cabai-cabainya dipanen orang lain. Saya bisa rugi besar kalau cabainya dicuri orang,” katanya, Selasa 10 Januari 2017.

Menurut dia, ronda malam dimulai sejak pukul 19.00 sampai pagi. Para petani juga saling tolong-menolong dalam menyediakan makanan untuk berjaga malam. Walaupun udara di Suntenjaya ketika malam jauh lebih dingin bila dibandingkan dengan daerah perkotaan di Lembang, Endi tak mempersoalkannya.¬†Pasalnya, dia menuturkan, tanaman cabai yang dia tanam di atas lahan seluas sekitar 3.500 meter persegi akan dipanen dalam waktu 1-2 hari ke depan. Dia pun sudah membayangkan pendapatan yang akan diperoleh. “Nanti ketika panen dapatnya bisa sampai 70 kilogram cabai. Kalau dijual dengan harga sekarang, kira-kira saya mendapatkan untung Rp 5 jutaan,” tuturnya.

Endi menjelaskan, para petani di Suntenjaya sudah terbiasa menggelar ronda malam ketika terjadi peningkatan harga yang signifikan pada komoditas sayur-sayuran seperti ketika harga tomat mencapai Rp 12 ribu per kilogram pada 2015 lalu.

“Pokoknya, kalau harga sayuran sudah melebihi Rp 30 ribu, kami selalu bermalam di kebun. Kalau ada cabai yang dicuri 10 kilogram saja, kita ruginya sudah banyak,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menggelar pencanangan Gerakan Ngimpuk Cabai dan beraudiensi dengan para anggota Kelompok Tani Wargi Pangupay. Heryawan berjanji akan memberikan bantuan domba kepada kelompok tani karena kotoran domba bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kandang sehingga mengurangi penggunaan pestisida.

Pada kesempatan yang sama pula, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika menuturkan, produksi cabai Jabar setiap tahun selalu tinggi. ” Untuk cabai besar, produksi di provinsi Jabar malah masih nomor satu. Sementara untuk cabai rawit, produksi di Jabar ada diposisi kedua,” ujarnya.

Dari angka sementara pada tahun 2016, Hendi menyebutkan, produksi cabai rawit keseluruhan mencapai 108.895 ton dari areal tanam seluas 7.678 hektare. Angka tersebut sedikit turun bila dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai produksi sebanyak 112.634 ton dengan areal tanam seluas 10.131 hektare. Rata-rata produktivitas cabai di Jabar mencapai 13 ton per hektare.

Menurut Hendi, tingkat produksi cabai yang tinggi itu bisa memenuhi kebutuhan cabai penduduk di seluruh Jabar, termasuk untuk saat ini dan beberapa bulan ke depan. Berdasarkan luas areal tanam cabai pada Oktober-Desember 2016, saat panen cabai pada Januari-Maret 2017 produksinya akan melebihi kebutuhan cabai di Jabar.

“Diprediksi, untuk Januari suplai cabai Jabar mencapai 12.515 ton, Februari sebanyak 8.003 ton, dan Maret sebanyak 12.393 ton. Konsumsinya bagaimana? Kalau berdasarkan data konsumsi perkapita per tahun, dikalikan dengan jumlah penduduk Jabar berjumlah sekitar 46 juta jiwa, maka suplainya untuk di Jabar saja masih sangat berlebih,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *